Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain menempatkan GMV ekonomi digital Indonesia mendekati US$100 miliar pada 2025 — tumbuh sekitar 14% dan tetap yang terbesar di Asia Tenggara.
GMV adalah nilai transaksi bruto pada sektor yang dicakup laporan, bukan pendapatan bersih perusahaan atau kontribusi langsung terhadap PDB.
Tiga angka yang mengubah cara kerja
- E-commerce sekitar US$71 miliar. Tetap penyumbang terbesar. Artinya pelanggan Anda sudah terbiasa dengan standar layanan marketplace — balasan cepat, status pesanan yang jelas, pengembalian yang mudah.
- Video commerce naik 90% dalam setahun, menjadi 2,6 miliar transaksi, dengan jumlah penjual tumbuh 75% menjadi sekitar 800 ribu. Penjualan makin bergeser ke kanal percakapan dan siaran langsung — yang volumenya tidak bisa ditangani manual.
- Menurut Komdigi, sekitar 40% dari 64 juta UMKM telah memanfaatkan teknologi digital. Peluang dan persaingan digital masih terus berkembang; angka ini memakai definisi yang berbeda dari GMV laporan e-Conomy SEA.
Apa artinya secara operasional
Pola yang berulang: penjualan tumbuh di kanal percakapan, sementara kapasitas menjawab tidak ikut tumbuh. Selisih itu muncul sebagai waktu balas yang melambat di jam sibuk, order yang terlewat, dan tim admin yang menghabiskan hari untuk menyalin data.
Bukan jumlah pesanan yang mematahkan operasi, tapi jumlah pemindahan data manual di antara pesanan-pesanan itu.
Kalau dua atau lebih terasa familiar, masalahnya bukan kapasitas orang, melainkan alur kerjanya. Titik mulai yang paling masuk akal biasanya satu proses yang paling sering diulang — bukan seluruh operasi sekaligus.
Sumber dan pemeriksaan fakta
Rujukan untuk fakta eksternal dalam tulisan ini. Penjelasan penerapannya merupakan analisis Tim GetCore. Sumber diperiksa pada 4 Oktober 2026.




